Perubahan...itulah sebuah kata yang tak bisa terelakkan dalam sebuah perjalanan hidup manusia atau pun masyarakat. Perubahan ini ada yang cepat dan yang lambat. Pada sebuah tujuan lembaga pastilah yang dikehendaki adalah perubahan kedepan dengan lebih baik, walau pun perubahan ke arah yang dianggap baik itu sudah barang tentu menimbulkan dampak entah positif dan negatifnya. Misalnya, seiring dengan perubahan dan kemajuan dibidang teknologi, menjadi sebuah fenomena yang luar biasa. Akan tetapi dampak yang dirasakan tak selalu positif. Dengan kemajuan teknologi manusia dapat terbantu dalam mengatasi masalahnya, namun disamping itu dengan kehadiran teknologi juga menimbulkan masalah baru bagi manusia.
Demikian pula yang terjadi dalam sebuah dinamika lembaga. Seiring dengan ingin mencapai kemajuan tentunya tak terhindar dari yang namanya masalah. Dengan banyaknya personil yang berbeda status, latar belakang budaya, dsb, itu akan menambah warna dan lebih mempercepat proses kemajuan. Karena dengan semakin banyaknya warna tadi, banyak sekali sumbangsih yang diberikan dan selalu muncul ide2 segar.
Bila dalam sebuah lembaga terjadi pergesekan antar penghuni, gosip, isu, hal itu sudah menjadi sesuatu yang wajar. Pada dasarnya dari peristiwa2 itu tentunya yang diinginkan adalah sebuah perubahan, dengan hal itu pula ada kontrol sosial serta pengendalian sosial.
Hanya saja, dalam sebuah lembaga pasti ada saja oknum yang berwatak penjilat, pengecut, pendobrak, inovator, atau yang hanya adem ayem saja seakan tak perduli, dll. Itulah yang saya sebut dengan "warna".
Maka solusinya adalah mencari titik kesetimbangan dalam sebuah lembaga, agar tetap terjaga harmonisasi, ritme dalam keseharian beraktivitas supaya dinamika tadi tidak mengarah kepada disintegrasi, melainkan menjadi integrasi yang solid demi memajukan dan atas dasar kebersamaan dan rasa saling memiliki.
Sulit untuk mencapai kata sempurna, akan tetapi jika dilakukan dengan baik dan penuh tanggung jawab mudah-mudahan akan terlaksana. Jauhkan rasa dari negatif thinking, dengki dan saling mencurigai. Kalau ini terus terjadi, maka yang terlontar adalah kata GAWAT. selamat berkarya dan berbenah...maju terus
Selasa, 24 Mei 2011
Minggu, 03 April 2011
Ini Pekerjaan atau "Penyiksaan"
Sebuah kenyataan yang aneh, baru-baru ini saya mengalami kejadian yang sebenarnya menggelitik pikiran saya. Kok ada ya..karyawan diberikan tugas tapi bukan dianggap sebagai tanggungjawab karena sudah menjadi tugasnya tapi dianggapnya sebagai "penyiksaan". Padahal dengan adanya tugas sudah barang tentu berbanding lurus dengan penghasilan. Apa mental karyawan sekarang ini hanya maunya berduit banyak tapi ga mau kerja keras???...mungkin ini hanya anggapan ku saja, tidak semuanya karyawan seperti itu.Sebelumnya karyawan itu iri dengan rekannya karena dapat job tambahan, tapi setelah dia dapat giliran tambahan malah mengeluh sebagai penyiksaan, lalu..maunya apa siihhh. diberikan masukan, katanya nanti kerja dua kali...terlalu makan banyak waktu..pokoknya repotlah... Ini jelas terlihat pola pikir karyawan ini hanya sebatas dengkul alias semaunya sendiri. Apapun yang ngatur aku sendiri..hahaha..enak sekali ya ..memangnya dia itu bos apa..(seperti orang utan ngakunya orang).
Penggalan tulisan tadi hanya cerminan kekecewaan aku dari sebuah kinerja yang jauh dari profesional, tidak menunjukkan abdi yang setia dan penuh loyalitas. Ciptakan lingkungan kerja yang nyaman, penuh dengan kerjasama dan semangat membangun dan rasa memiliki yang tinggi. Pekerjaan ini juga ibadah, jika itu dilakukan dengan sungguh2 dan penuh tanggungjawab. Jadilah "kuli-kuli" yang benar.
Penggalan tulisan tadi hanya cerminan kekecewaan aku dari sebuah kinerja yang jauh dari profesional, tidak menunjukkan abdi yang setia dan penuh loyalitas. Ciptakan lingkungan kerja yang nyaman, penuh dengan kerjasama dan semangat membangun dan rasa memiliki yang tinggi. Pekerjaan ini juga ibadah, jika itu dilakukan dengan sungguh2 dan penuh tanggungjawab. Jadilah "kuli-kuli" yang benar.
Senin, 14 Maret 2011
Semakin maraknya industri media massa khususnya televisi memang menunjukkan perubahan sosial yang pesat. Dengan adanya media tersebut, audien bisa dengan mudah menikmati tayangan audio visual yang dikemas secara apik dan cepat. Namun, yang menjadi masalah adalah dampak dari media tersebut. Memang TV memiliki nilai positif, selain mudah juga audien dapat mengikuti arus informasi, hiburan, olahraga, dsb disaat santai dirumah maupun di tempat lain.Akan tetapi, hawa positif tadi juga membawa hawa negatif pula bagi pemirsanya, terutama bagi mereka yang sulit menginterpretasikan tayangan di TV.
Beberapa sisi negatif TV; antara lain : informasi yang disajikan terkadang cenderung provokatif, ini sangat membahayakan apabila pemirsa hanya mencerna mentah-mentah tayangan tersebut untuk bertindak sesuatu. TV dapat membius pemirsanya untuk berlama-lama di depan TV dan dapat dikatakan sebagai sebuah ritual nonton TV (karena dilakukan setiap hari dengan khidmat tanpa mau diganggu). Kita ambil contoh pada hiburan sinetron misalnya, dengan durasi waktu yang lama seolah-olah TV dapat membius pemirsanya untuk tidak beranjak dari tempatnya dan sangat kecewa sekali tatkala ada beberapa penggalan yang terlewati..karena memang disajikan begitu cepat. Padahal, kita bisa lihat sendiri, tayangan sinetron lebih kepada sandiwara saja yang cenderung lebay (hehe..ikutan istilah anak muda). Ini sangat rentan sekali jika pemirsanya disertai dengan tindakan imitasi (peniruan) dan juga identifikasi (identik sama) dengan yang dia idolakan dalam tokoh sinetron tersebut. Padahal dua perilaku tersebut sangat berpengaruh pada pembentukan kepribadian seseorang. Meniru dan identik sama boleh-boleh saja, asalkan masih dalam koridor positif. Kalau itu positif kenappa tidak kita tiru. Namun, disitulah terkadang kita tidak sadar bahwa yang kita tiru bukan positifnya saja, melainkan yang negatifnya pula.
Dengan beberapa contoh kasus diatas, maka sangat dipandang perlu audien harus dapat memilih mana tayangan yang benar-benar berguna, mendidik, serta memberikan pandangan yang luas pada cakrawala berpikir audien. Tayangan-tayangan yang hanya berbau popularitas, hedonisme, dan irasional saya kira tak perlu untuk diikuti. Terlebih bagi kalian yang notabene berstatus pelajar (intelektual muda). Pelajar harus kritis dan selalu berpikir rasional dalam berbagai hal. termasuk memilih tayangan TV, mana yang layak kita konsumsi dan mana yang tidak, sekiranya sesuai dengan kaidah nilai dan norma.
Terimakasih untuk insan-insan televisi yang telah memproduksi tayangan-tayangan yang menarik, menghibur, serta edukatif, menjembatani kita pada keterbatasan ruang dan waktu.TV harus menjadikan media sosialisasi juga media perubahan yang baik. Semoga dari tontonan dapat menjadi tuntunan yang baik pula.
Minggu, 06 Maret 2011
Majemuk Rentan Konflik
Indonesia.... Sejak prasejarah(suku), masa kerajaan Hindu-Budha dan Islam, masa kolonial hingga lahirnya Negara Republik Indonesia. Dari rentetan yang panjang itu lah sudah tercermin betapa majemuknya Indonesia. Indonesia sendiri tidak terbentuk dengan sendirinya, harus melalui proses integrasi yang begitu panjang. Dari sejak awal lahirnya negeri ini di tahun 45 sudah harus dilalui dengan konflik intern antara golongan muda dengan golongan tua (hingga terjadi peristiwa Rengasdengklok) dan akhirnya memproklamasikan kemerdekaan pada 17 Agustus 1945. Ditengah-tengah masa menyatukan negeri ini sudah banyak teror dari dalam untuk memisahkan diri, sebut saja DI/TII, RMS-Permesta, dsb. Hingga kini Indonesia juga masih direpotkan dengan hal semacam itu. Belum lagi banyak konflik terjadi antara mayoritas dengan minoritas(agama), ras, etnis, belum lagi aksi-aksi makar dan anarkis. Memang betapa repotnya mengurus negeri ini.
Terlebih akhir-akhir ini sangat sering sekali terjadi pertentangan terutama masalah agama (keyakinan). Banyak bermunculan aliran yang dianggap sesat. Akhir ini kita tengok masalah Ahmadiyah. Ahmadiyah dianggap sesat. Banyak sekali peristiwa di berbagai tempat terjadi perusakan bahkan jatuh korban karena aksi2 penyerangan kaum mayoritas yang menganggap kalau dirinyalah yang paling benar. Tetapi, didaerah lain (masih di Indonesia) terjadi perlakuan yang berbeda kepada kaum Ahmadiyah, tidak ada pelarangan aktivitas keagamaan mereka, tidak ada peperangan diantara mereka, bahkan hidup berdampingan tanpa mempersoalkan perbedaan prinsip. Waaauuww...luar biasa. Tapi, itulah kenyataan di kita, masalah agama sangat mudah sekali menyulut api konflik. Bahkan, saking dimusuhinya Ahmadiyah, pemeluk Ahmadiyah dikucilkan dan hak2 mereka sebagai warga negara seolah-olah hilang bahkan mungkin tidak ada. Dimana keberpihakan hukum (Undang-Undang) memberikan hak yang sama kepada warga negaranya. "Sesat" dalam hal ini ada pada koridor teologis sedangkan hukum tidak ada mengenal itu. Sulit memang kalau mencari pembenaran dalam masalah konflik ini.
Itu tadi hanya satu dari sekian banyak kasus yang terjadi. Kita tinggalkan pembahasan kasus tadi ( kalau diteruskan nanti khawatir ada yang salah tafsir, disangka penulis berpihak ). Tadi penulis hanya berusaha menggambarkan sedikit realitas yang terjadi, jangan salah sangka yaaa...yaaa...peace..
Majemuk itu memang indah, tapi dibalik keindahannya itu menyimpan sejuta misteri. Begitulah kira-kira ungkapannya. Indah yang dimaksud adalah banyak sekali warna dan budaya yang berbeda, Misteri yang dimaksud adalah rawan dengan konflik. Maka dari itu, mari kita lebih mawas diri. Sayangi sesama manusia (jgn melihat perbedaan warna kulit, suku, keyakinan, dll), sayangi sesama hidup dan selalu mengibarkan bendera perdamaian. Semoga negeri ini masih diwarnai dengan kehidupan yang penuh toleransi, dan di jauhkan dari segala pertentangan serta musibah. Amin.
Tetaplah damai negeriku..toto tentrem kerto raharjo.
Kamis, 03 Maret 2011
Solidaritas
Kebersamaan...
Kata orang yang namanya sahabat/teman..kan slalu bersama dalam suka dan duka, ada pula yang mengatakan miliku-milikmu, milikmu milikku juga, dan sebagainya. boleh-boleh saja orang mengartikan lain makna teman/sahabat..yang jelas apapun itu (bukan teh botol sosro) mereka adalah orang yang ada disekitar kita, bahkan setiap hari selalu ada dengan kita.
Kebersamaan, tdk harus dimaknai dengan seragam, dan selalu bersama dalam waktu ruang yang sama pula, tapi kebersamaan lebih kepada terjadi sinergi antara dua atau lebih individu atau kelompok.Misalnya; di lingkungan kita ini terdapat individu dari suku bangsa dan agama yang berbeda. Alangkah indahnya bila terwujud kebersamaan walau pun dari latar belakang yang berbeda. Ini yang sulit, kita terkadang terdorong rasa ego-sentris dan sentris-sentris yang lainnya. Merasa paling benar..paling..paling..dan se-paling-palingnya. Itulah biangnya perpecahan, seperti potret negeri sekarang2 ini. banyak sekali kasus kerusuhan akibat dari perbedaan tadi... Mereka hanya bisa toleransi dengan yang sama, tapi dengan yang sedikit beda atau jauh berbeda mereka hanya memandang sebelah mata (cenderung memusuhi). Memang sulit menciptakan kebersamaan dari berbagai perbedaan. Tapi jika kita memandang cakrawala yang lebih luas..mungkin bisa sama-sama kita telaah makna kebersamaan dari berbagai perbedaan. Mungkinkah...Kita kan selalu bersama...(penggalan dari mas Andre) jawabnya..mungkin saja hehehe...
Salam...
Kata orang yang namanya sahabat/teman..kan slalu bersama dalam suka dan duka, ada pula yang mengatakan miliku-milikmu, milikmu milikku juga, dan sebagainya. boleh-boleh saja orang mengartikan lain makna teman/sahabat..yang jelas apapun itu (bukan teh botol sosro) mereka adalah orang yang ada disekitar kita, bahkan setiap hari selalu ada dengan kita.
Kebersamaan, tdk harus dimaknai dengan seragam, dan selalu bersama dalam waktu ruang yang sama pula, tapi kebersamaan lebih kepada terjadi sinergi antara dua atau lebih individu atau kelompok.Misalnya; di lingkungan kita ini terdapat individu dari suku bangsa dan agama yang berbeda. Alangkah indahnya bila terwujud kebersamaan walau pun dari latar belakang yang berbeda. Ini yang sulit, kita terkadang terdorong rasa ego-sentris dan sentris-sentris yang lainnya. Merasa paling benar..paling..paling..dan se-paling-palingnya. Itulah biangnya perpecahan, seperti potret negeri sekarang2 ini. banyak sekali kasus kerusuhan akibat dari perbedaan tadi... Mereka hanya bisa toleransi dengan yang sama, tapi dengan yang sedikit beda atau jauh berbeda mereka hanya memandang sebelah mata (cenderung memusuhi). Memang sulit menciptakan kebersamaan dari berbagai perbedaan. Tapi jika kita memandang cakrawala yang lebih luas..mungkin bisa sama-sama kita telaah makna kebersamaan dari berbagai perbedaan. Mungkinkah...Kita kan selalu bersama...(penggalan dari mas Andre) jawabnya..mungkin saja hehehe...
Salam...
Jumat, 25 Februari 2011
Keteraturan
Parkir...
Memarkir sepeda motor atau kendaraan apa-pun dengan tertib dan teratur, selain indah dipandang juga dapat menciptakan sebuah kateraturan. Sesama pemilik kendaraan sama-sama saling menjaga dan menata supaya mempermudah keluar-masuk kendaraan.
Namun, sayangnya pemandangan itu tidak bisa otomatis dilihat setiap hari. Kalau ada yang memerintah atau menyuruh menata rapi kendaraannya, barulah kendaraan tersebut dapat tertata rapi, tapi kalau tidak ada yang jaga atau memerintah...yaaa...kembali keselera asal (parkir sekarepe dewek), malang melintang tidak karuan. Dalam hal ini dibutuhkan kesadaran bersama, tanamkan pada individu masing-masing, bahwa keteraturan akan menimbulkan keindahan dan kenyamanan. Terlebih, siswa SMA bukanlah anak kecil lagi, melainkan remaja yang sudah mampu berpikir rasional dan kritis. Satu sama lain saling mengingatkan apabila ada yang lalai. Ciptakan suasana yang kondusif, tanpa rasa kecemasan terhadap keamanan kendaraan yang kalian bawa.
Itu hanya satu contoh realita sosial di lingkungan kita. Disisi yang lain masih banyak yang perlu kita benahi bersama. Kebiasaan-kebiasaan buruk sekecil apapun bentuknya dapat menjadi peruntuh semangat kita dalam melakukan dan meraih sesuatu. Ini adalah suasana pengajaran dan pendidikan...(yang baca ini khususnya warga SMAKRO), mari kita tingkatkan kepekaan dan kepedulian kita demi kemajuan dan membangun citra sekolah.
Dari deskripsi parkir tadi, semoga dapat menginspirasi kita semua (karena sudah bosan dengan pertanyaan disiplin, on time, macul, dsb). Hari gini masih mempertanyakan itu..haduuuhh..capek deh. kapan kita bisa berlari menyusul yang lain, tatkala kita masih selalu direpotkan dengan maslah itu. Bangun kebersamaan dan rasa memiliki diseluruh civitas akademika SMAKRO. Salam Kompak...
Kamis, 24 Februari 2011
Konsep Sosiologi Sebagai Metode
Sosiologi sebagai metode adalah cara berpikir untuk mengungkapkan relaitas sosial yang ada dalam masyarakat dengan prosedur dan teori yang dapat dipertanggung jawabkan sebara ilmiah (Ilmu pengetahuan). Karena salah satu ciri ilmu pengetahuan adalah mengembangkan metode ilmiah.
Metode ilmiah yang biasanya dipergunakan dalam Sosiologi adalah sebagai berikut:
1). Metode Kualitatif
Metode kualitatif terdiri atas tiga jenis yaitu :
a) .Metode histori adalah metode yang dipergunakan untuk menganalisis peristiwa- peristiwa yang terjadi pada masa silam.
Contoh : untuk mengetahui dampak revolusi industri atau revolusi Perancis, kita harus mempergunakan metode histori untuk mendapatkan bahan sejarah.
b). Metode komparatif adalah metode yang mempergunakan perbedaan dan persamaan beserta sebab akibatnya dengan tujuan untuk mendapatkan data mengenai keadaan masyarakat masa silam dan masa sekarang. Misalnya masyarakat tradisional dengan masyarakat modern.
c). Metode studi kasus adalah metode yang bertujuan untuk mempelajari sedalam- dalamnya gejala atau kejadian nyata yang terjadi dalam masyarakat. Misalnya maraknya tawuran antar desa dan antar suku di Indonesia.
2). Metode kuantitatif
Metode kuantitatif ini ada dua macam yaitu :
a). Metode Statistik adalah metode yang bertujuan untuk menelaah gejala-gejala sosial dengan perhitungan matematis atau dengan angka-angka. Misalnya : jumlah penduduk di Indonesia meningkat 2% pertahun
b). Metode Sosiometri adalah metode yang bertujuan untuk meneliti dan menggambarkan hubungan-hubungan antar manusia dalam kehidupan masyarakat secara kuantitatif dengan angka. Misalnya angka pengangguran meningkat tajam pada massa krisis ekonomi global digambarkan dalam sebuah grafik.
3). Metode induktif dan deduktif
a). Metode induktif adalah metode yang dipergunakan untuk merumuskan suatu proses yang dimulai dari kaidah-kaidah yang berlaku secara khusus untuk kemudian dipelajari dalam keadaan umum. Misal: Dita kelas X A nilainya bagus, Amir dan beberapa temannya nilainya bagus. Siswa kelas X A nilainya bagus-bagus.
b). Metode deduktif adalah metode yang menggunakan suatu proses yang dimulai dari kaidah-kaidah umum untuk kemudian dipelajari dalam keadaan khusus atau bagian-bagian. Misal :Lagu-lagu Pop di Indonesia sangat populer di Malaysia. Termasuk lagunya Piterpan, Ungu, Nidji, D-Masiv, Ahmad Dani, Padi dll semuanya bagus.
4). Metode empiris dan rasionalistis
a). Metode empiris adalah metode yang menyadarkan diri pada keadaan atau pengalaman nyata yang terjadi dalam kehidupan masyarakat, yang diwujudkan melalui penelitian. Jumlah kendaraan baik motor maupun mobil. Jumlahnya meningkat, terlihat semakin padatnya lalu lintas di jalan raya.
b). Metode rasional adalah metode yang mengutamakan logika atau rasio untuk memahami masalah-masalah sosial yang terjadi dalam kehidupan masyarakat. Misal Bencana banjir yang melanda di Indonesia disebabkan hutan lindung dibabat habis oleh illegal loging.
5). Metode fungsional
Metode fungsional adalah metode yang bertujuan untuk meneliti sesuatu dari segi fungsi atau tujuannya dan hubungan balik yang saling mempengaruhi. Misalnya meneliti fungsi daun jambu berfungsi untuk obat sakit diare.
6). Metode Survey Lapangan (Observasi)
Metode ini digunakan untuk memperoleh data yang ada pada kehidupan masyarakat secara langsung. Data dapat diperoleh melalui angket, wawancara atau observasi secara langsung. Misalnya penelitian tentang adat istiadat suku Dayak di Kalimantan
7). Metode Partisipasi
Metode ini digunakan untuk mengadakan penelitian mendalam tentang kehidupan kelompok dengan cara berbaur dengan kehidupan kelompok sambil melakukan pengamatan secara langsung melalui cara penyamaran. Misalnya :Penelitian tentang kehidupan pemulung dengan menyamar menjadi pemulung.
Ciri-Ciri Sosiologi Sebagai Ilmu
(Menurut Harry M Johnson 1967, dalam Sosiologi A Systematic Introduction)
1. Sosiologi bersifat empiris.
Artinya bahwa sosiologi dikembangkan berdasarkan hasil penelitian empiris mengenai fenomena sosial yang terjadi dalam kehidupan masyarakat.Ciri empiris ini harus dapat dibuktikan kebenarannya berdasarkan kenyataan yang ada secara logis atau rasional. Bukan atas spekulasi atau wahyu.Contoh : Masyarakat Indonesia terkenal ramah , sederhana, kekeluargaan dan gotong royong.
2. Sosiologi bersifat teoritis
Artinya bahwa fenomena atau gejala-gejala sosial budaya sebagai obyek kajian Sosiologi diteliti secara teoritis dan konseptual berdasarkan hubungan sebab akibat (kausal) dan dirumuskan dengan metode dan prosedur ilmiah.
Contoh : seorang pelajar atau mahasiswa rajin belajar secara tekun karena didorong oleh keinginan menjadi orang yang pandai dan berguna bagi keluarga dan masyarakatnya.
3. Sosiologi bersifat kumulatif
Artinya teori-teori Sosiologi dibangun atas dasar teori yang sudah ada sebelumnya (misal ilmu filsafat). Teori-teori baru yang lebih mendekati kebenaran dan lebih luas, pada dasarnya merupakan penyempurnaan dari teori-teori yang sudah ada.
Contoh : menurut teori Darwin, manusia di bumi ini berasal dari kera. Kenyataannya teori tersebut sudah tidak berlaku lagi. Dan mengalami perubahan.
4. Sosiologi bersifat bukan etika (non etis)
Artinya Sosiologi bukan ajaran tentang tata susila dan tidak membicarakan tingkah laku baik atau buruk yang terjadi di masyarakat Tetapi tugas Sosiolog adalah mengungkapkan tentang tindakan sosial sebagai fakta atau hanya mendeskripsikan berbagai fenomena sosial budaya yang terjadi dalam masyarakat berdasarka hukum kausalitas.
Contoh bahwa sosiologi bersifat tidak menilai bahwa bentrokan antar etnis atau antar desa adalah baik atau buruk, tetapi hanya mengkaji hubungan sebab-akibat dari bentrokan tersebut
Pengertian Sosiologi
Sosiologi merupakan sebuah istilah yang berasal dari kata latin socius yang artinya teman, dan logos dari kata Yunani yang berarti cerita, diungkapkan pertama kalinya dalam buku yang berjudul “Cours De Philosophie Positive” karangan Auguste Comte (1798-1857). Sosiologi muncul sejak ratusan, bahkan ribuan tahun yang lalu. Namun sosiologi sebagai ilmu yang mempelajari masyarakat baru lahir kemudian di Eropa Secara etimologis. Sosiologi berarti ilmu tentang berteman atau ilmu tentang bermasyarakat Sosiologi adalah pengetahuan atau ilmu tentang sifat masyarakat, perilaku masyarakat, dan perkembangan masyarakat. Sosiologi merupakan cabang Ilmu Sosial yang mempelajari masyarakat dan pengaruhnya terhadap kehidupan manusia. Sebagai cabang Ilmu, Sosiologi dicetuskan pertama kali oleh ilmuwan Perancis, Auguste Comte. Comte kemudian dikenal sebagai Bapak Sosiologi. Namun demikian, sejarah mencatat bahwa Émile Durkheim — ilmuwan sosial Perancis — yang kemudian berhasil melembagakan Sosiologi sebagai disiplin akademis. Sebagai sebuah ilmu, sosiologi merupakan pengetahuan kemasyarakatan yang tersusun dari hasil-hasil pemikiran ilmiah dan dapat di kontrol secara kritis oleh orang lain atau umum.
Berikut ini marilah kita pelajari tentang difinisi-difinisi Sosiologi menurut para ahli sesuai dengan pandangan masing-masing (Soerjono Soekamto. 2001 : 20)
1). Pitirim A Sorokin :
Sosiologi adalah ilmu yang mempelajari tentang hubungan timbal balik berbagai gejala sosial (misalnya, antara gejala ekonomi dengan agama, keluarga dengan moral,hukum dengan ekonomi , dan sebagainya) dan antara gejala-gejala soaial dengan gejala-gejala non sosial (misalnya, gejala geografis dengan gejala biologis, dan sebagainya)
2). William F. Ogburn dan Meyer F. Nimkoff
Sosiologi adalah ilmu pengetahuan yang meneliti tentang interaksi sosial dan organisasi sosial
3). Prof. DR. Selo Soemardjan dan Soelaeman Soemardi
Sosiologi adalah ilmu pengetahuan yang mempelajari tentang struktur dan proses sosial termasuk perubahan sosial.
4). Roucek dan Warren
Sosiologi adalah ilmu yang mempelajarai individu dengan kelompoknya
5). Peter L. Berger
Sosiologi adalah studi ilmiah tentang hubungan individu dengan masyarakatnya
6). J.A.A.Van Doorn dan Lammars
Sosiologi adalah ilmu pengetahuan tentang struktur-struktur dan proses proses kemasyarakatan yang bersifat stabil.
7). Auguste Comte
Sosiologi adalah ilmu positif tentang masyarakat.
Sebuah Kisah Klasik (Materi Sosialisasi dan Pembentukan Kepribadian)
Ini sebuah rentetan kronologi perjalanan hidup seorang anak dusun di daerah (dulunya terpencil) yang berusaha menggapai asa dan cita. Bermula dari masa kecilnya yang dibesarkan dalam lingkungan keluarga yang sederhana, sarana-prasarana yang terbatas (maklum jauh dari jangkauan). Tak pernah merasakan playgroup juga taman kanak-kanak karena memang tidak ada. Tapi, dia sangat bersyukur karena punya orang tua yang mendidik, membesarkannya dengan penuh kasih dan sayang. Keluarga benar-benar menjadikannya ajang sosialisasi yang sangat penting (primer), dimana dia ditanamkan nilai-nilai luhur serta norma-norma agar dia kelak memahami mana yang baik dan mana yang buruk.
Dalam keseharian dia bermain dengan teman-teman kecilnya hanya bermain permainan sederhana ala kampung. namun ia sangat menikmatinya...hati riang dan gembira. Hanya bermain dari bahan bambu, lempung (tanah liat), sandal bekas, dan lain sebagainya yang bisa dimanfaatkan untuk bermain. Dia sangat bangga dengan karya-karyanya yang dibuat dengan temannya. Jika di sore hari, dia belajar mengaji di Mushola sampai waktu Isyak datang. begitulah keseharian singkat masa kecilnya.
Semasa pendidikan SD dan SMP dia masih bertahan di kampung itu dengan menikmati pendidikan yang bisa dibilang "ala kadarnya" saja. Jauh dari terpaan teknologi, sangat jauh berbeda dengan mereka yang di kota. Jangankan teknologi..listrik saja belum ada. Belajar di rumah harus rela hanya diterangi lampu cempor atau dibawah sinar lampu petromak hehehe..(kasihan banget ya). Walaupun dengan sarana yang minimalis dia dan kawan2nya selalu belajar kelompok, berdiskusi tanpa mengenal hari minggu..(ngayalnya sih pengen pinter hehehe). Perjalanan ke sekolah harus ditempuh dengan sepeda atau jalan kaki saat musim penghujan (karena medan yang becek ga ada ojek hehe) dan akhirnya dia lulus juga dari SMP. Setelah lepas SMP, dia berkeinginan mengembara ke kota untuk menempuh pendidikan lanjutan, dan juga ia menginginkan pengalaman baru di luar sana.
Ternyata, impian dia terwujud dapat bersekolah di kota. Namun, di awal dia sangat kesulitan adaptasi dengan lingkungan barunya, berbeda budaya, beda suasana, pokoknya segala-galanya beda. Bisa dibilang dia mengalami "keterkejutan budaya" (klo kata Om Tukul, kelihatan Ndesonya hehe). Lambat laun, dia bisa menyesuaikan diri dengan lingkungan barunya, setelah dia punya banyak teman di sekolahnya. Dia berusaha mentransfer semua yang ia dapat dari pengalamanya tersebut. Disana pun ia bermimpi, selepas SMA ia ingin kuliah menjadi seorang sarjana dan juga bekerja di kota. Tapi, ia sempat ragu karena mengingat latar belakang keluarga dia yang hanya dari kalangan sederhana alias pas-pasan. Namun akhirnya setelah lulus SMA, ia nekad juga kuliah walau dengan biaya yang bisa dibilang sangat jauh dari cukup alias kurang. Hambatan dan ketakutan itu berusaha ia tepis guna membulatkan tekadnya untuk berjuang menjadi sarjana. Di masa kuliahnya itu lah dia banyak mengalami peristiwa2 yang sangat berharga dan mendapat teman2 yang luar biasa menurutnya. Karena dukungan teman2 itulah dia bisa kuat serta belajar mandiri dan kreatif guna memenuhi kekurangan biaya studinya. Singkat cerita, akhirnya dia lulus juga jadi sarjana. Setelah itu dia mengalami pergulatan batin yang sangat hebat karena ternyata sangat sulit mendapatkan pekerjaan di kota. Tapi dia tidak putus asa, dia terus mencari, mencari, dan mencari. Sampai suatu ketika, dia berpikir untuk kembali ke kampung halamannya. Dia berpikir, "kenapa saya tidak mencoba untuk membangun kampung saya sendiri", begitulah yang ada dalam pikirinya saat itu.
Akhirnya, dia memutuskan untuk kembali ke kampung halaman. Sesampainya di kampung dia pun terkejut, setelah 10 tahun ia tinggalkan ternyata tidak begitu banyak perubahan di kampungnya. Tapi, dikampungnya itu pula dia juga sulit untuk mendapatkan pekerjaan. Dan disuatu kesempatan, mungkin Tuhan menjawab semua hasil perjuangannya selama itu. Akhirnya, dia menjadi seorang Guru. Walaupun, dia tidak pernah membayangkan kalau dirinya bakal jadi Guru.
Begitulah sepenggal kisah klasik ini. Dia akhirnya berhasil mengembangkan dirinya serta membangun desanya dengan misi pendidikan. Sebuah kenyataan yang tak pernah terduga.
Salam......
Langganan:
Postingan (Atom)


